Salah satu moda transportasi yang dekat dengan masyarakat Indonesia adalah kereta api. Budaya bepergian dengan kereta api telah menjadi favorit masyarakat Indonesia sejak dahulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka. Salah satu buktinya adalah ketika menjelang hari Raya Idul Fitri tiba. Bisa dipastikan seluruh tiket ludes terjual, bahkan bisa sampai tiga bulan sebelumnya.

Saking dekatnya antara kereta api dengan masyarakat Indonesia, banyak lagu-lagu Indonesia yang menggunakan kata kereta di dalamnya. Sebut saja seperti lagu “Naik Kereta Api” karangan Ibu Sud, “Kereta Malam” ciptaan Elvy Sukaesih, dan “Kereta Tiba Pukul Berapa” milik Iwan Fals. Banyak dari kita tentu sudah akrab dengan lagu-lagu yang saya sebutkan tadi.

Bagi sebagian besar masyarakat penglaju, kereta rel listrik atau istilah kerennya commuter line bisa menjadi kendaraan alternatif untuk bepergian. Suara lolongan klakson, denyitan antar gerbong kereta, serta voiceover pemberitahuan yang khas di setiap stasiun, tentu sangat akrab hilir mudik di telinga mereka. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang melabeli diri mereka sebagai anker alias anak kereta.

Saya pribadi sempat beberapa kali melakukan perjalanan menggunakan jasa commuter line. Pemandangan yang sama selalu saya temui ketika bepergian dengan moda transportasi yang satu ini. Mulai dari saling rebut antar penumpang demi tidak terlambat sampai tempat tujuan, penumpang yang menjaga keseimbangan saat berdiri agar tidak jatuh, hingga wajah berkeringat yang hanya berjarak satu jengkal dengan wajah penumpang lainnya.

Baru-baru ini saya kembali menggunakan commuter line, setelah kurang lebih empat bulan berdiam diri di rumah. Suasananya agak sedikit berbeda. Tidak terlalu riuh dan bising. Mungkin sebagian orang masih melakukan aktivitasnya dari rumah atau memang karena saya tidak dalam situasi rush hour.

Selama perjalanan, lagu-lagu milik Sticky Fingers menemani saya yang sejak awal asik memperhatikan jalanan di balik jendela kereta. Satu album full bertajuk “Caress Your Soul” milik band asal Sydney ini memenuhi telinga saya dalam perjalanan menuju Depok. Sampai album ini selesai diputar, tujuan saya belum tiba.

Entah karena saya sedang bosan dengan playlist di ponsel yang itu-itu saja atau karena saya ingin mengobrol dengan seseorang. Saya memutuskan untuk memutar radio melalui layanan streaming. Prambors saya pilih sebagai teman untuk melanjutkan perjalanan menuju Depok.

Topik pembahasan, informasi lalu lintas, serta playlist yang disajikan oleh radio berwarna kuning ini silih berganti menemani saya melewati stasiun Pasar Minggu, Tanjung Barat, hingga Lenteng Agung. Tak ketinggalan, ocehan-ocehan khas penyiar membuat saya seperti sedang diajak ngobrol dengan seseorang.

Fokus saya terhenti pada sebuah lagu yang diputar oleh radio ini. Lagu yang terdengar asing bagi saya. Semacam lagu pop era 80-an yang ramai dengan nuansa elektronik. Semakin lagu itu diputar, lagu tersebut semakin menempel di kepala saya.

Kurang lebih liriknya seperti ini, 

“misanthrophy’s a feel trophy’s surreal placid as a light on acid”.

Rasa penasaran saya muncul. Segera saya meluncur ke situs pencarian untuk mencari tahu siapa sebenarnya orang di balik lagu keren ini. Tak lama, muncul nama Joko In Berlin di situs pencarian tersebut. Sebuah nama yang unik. Joko yang identik dengan nama- nama orang Jawa Tengah berpadu dengan nama Berlin yang merupakan sebuah kota di Jerman. Sebuah akulturasi budaya yang baru saya temui.

Pemberian nama Joko In Berlin bukan tanpa alasan. Menurut sumber yang saya baca, nama Joko dipilih sebagai representasi para personilnya yang berbasis di Pulau Jawa. Sedangkan kata Berlin dianggap mampu melambangkan influence musik mereka yang banyak dipengaruhi oleh musik-musik Eropa.

Benar saja. Ketika mendengarkan lagu ini, saya seperti disuguhkan musik dengan nuansa Eropa yang kental. Beragam alunan musik khas Benua Biru berpadu menjadi satu dalam lagu ini. Mulai dari sentuhan sound era 80-an, ambience elektronik, hingga petikan ukulele yang membuat tempo lagu ini menjadi up-beat.

Berbanding terbalik dengan musiknya yang danceable, lirik yang terdapat pada lagu ini justru bercerita mengenai kesendirian. Lirik-lirik metafora dibalut dengan musik yang eksploratif mampu menghadirkan lagu yang super catchy namun tetap easy listening.

Saya patut berterima kasih kepada KRL jurusan Depok dan Prambors. Sejak hari itu, saya merupakan salah satu penggemar Joko In Berlin. Bagi saya, hadirnya Joko In Berlin mampu memberikan warna baru bagi industri musik Tanah Air.

Untuk menutup tulisan ini, saya ingin mengucapkan Selamat Hari Kereta Api Nasional. Semoga terus melaju melayani masyarakat Indonesia.